Rabu, 27 Maret 2013

^^

Wow, Ini Dia Perpustakaan Pertama di Dunia


Perpustakaan dikenal dengan gudangnya ilmu. Di dalamnya terdapat banyak sekali jenis buku yang memberikan informasi beragam. Dari asal katanya, perpustakaan berasal dari kata “Pustaka” yang berarti kitab atau buku. Selaras pula dengan perpustakaan yang kini bertebaran di seluruh dunia yang menyediakan buku apapun.
Tapi apa Anda tahu dimana perpustakaan pertama di dunia? Jawabannya ada di Alexandria, Mesir. Ya! Bibliotheca Alexandria Egypt atau Perpustakaan Iskandariyah Mesir ialah perpustakaan pertama dan terbesar di dunia.
Berlokasi di Mesir, perpustakaan yang berdiri sejak 323 SM ini bertahan hingga berabad-abad dan memiliki koleksi terlengkap. Ptolemi I sang penerus Alexander Iskandariah adalah pendiri Perpustakaan Iskandariyah Mesir yang kemudian diteruskan hingga kekuasaan Ptomeli III.
Pada masa itu Bibliotheca Alexandria Egypt menjadi pusat ilmu pengetahuan. Hingga Raja mesir sempat membelanjakan harta kerajaannya untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 berbentuk ringkasan tak berjilid.
Namun ketika bangsa Romawi menguasai Mesir pada tahun 48 SM, di bawah kepemimpinan Julius Cesar bangsa Romawi membakar 400.000 buku hingga menjadi abu. Kemudian dunia ilmu kian tenggelam dan seluruh orang berduka
Hingga pada akhirnya sang Kaisar, Julius Caesar meminta maaf dan menggantikan 200.000 buku sebagai gantinya kepada Ratu Mesir Cleoptara.Tapi itu tidak mengembalikan perpustakaan menjadi seperti semula.
Ide membangun kembali Perpustakaan Alexandria, muncul dari akademisi Universitas Alexandria Mesir pada awal 1970-an. Pemerintah Mesir menyambut hangat, tapi gagal merealisasikannya. Keinginan serupa muncul kembali pada pertangahan 1980-an, tapi realisasinya setali tiga uang.
Hingga pada tahun 1990-an UNESCO dengan pemerintahan Mesir kembali membangun perpustakaan yang memiliki nilai sejarah tersebut. Setelah terbengkalai hampir 20 abad akhirnya Bibliotheca Alexandria Egypt atau Perpustakaan Iskandariyah Mesir kembali berdiri kokoh dan megah.
Bangunan utamanya berbentuk bulat beratap miring, terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk menetralkan suhu pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini dapat memuat sekitar 8 juta buku. Namun yang ada saat ini baru 250.000. Perpustakaan ini juga memiliki ratusan gulungan papyrus.
Menyediakan berbagai fasilitas, seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk memudahkan pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang, conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka anak-anak, museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset yang bisa dipakai gratis.
Ada juga Culturama yaitu panorama budaya lebih dari sembilan layar, yang pertama kalinya dipatenkan 9-proyektor sistem interaktif. Empat seni galeri untuk pameran temporer, pusat konferensi untuk ribuan orang dan forum  dialog yang memberikan kesempatan untuk pertemuan serta diskusi dengan para penulis.
Lantai tengah perpustakaan tersebut terdapat Gallery Design dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang berbagai prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding.
Dinding luar terbuat dari batu granit Zimbabwe seluas delapan ribu meter persegi. Dinding yang disusun dengan batu berukuran 2 x 1 meter itu dipahat aneka huruf dari berbagai bahasa, yang pernah dikenal manusia selama 10.000 tahun lebih dari 500 kebudayaan di dunia. Di sini timbul kesan yang amat kuat tentang betapa tingginya peradaban manusia di bidang tulis menulis.
Dekat dinding batu terdapat sebuah kolam air. Dengan demikian, ketika matahari sedang “menyala” dengan hebatnya, pantulannya dibelokkan oleh dinding dan air di kolam menuju beberapa bagian ruang perpustakaan sebuah efek yang kontras dan harmonis, yang meninggalkan kesan sebuah pertumbuhan geologis.
Perpustakaan yang dulu dihancurkan oleh Julius Caesar itu kini menjadi salah satu objek wisata dunia seperti Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan para Firaun di Luxor atau Museum Kairo yang menyimpan timbunan emas Tutankhamun.
Perpustakaan megah yang memiliki nilai sejarah ini menjadi pusat ilmu pengetahuan yang akan terus dikembangkan untuk peradaban masa lalu, kini hingga masa depan nanti.  (dari berbagai sumber/m02/ajz)

http://www.bisnis-jabar.com/index.php/berita/wow-ini-dia-perpustakaan-pertama-di-dunia
 

perpustakaan


Dunia Perpustakaan || 

Profesi pustakawan sebenarnya secara profesi memiliki peluang yang sangat luas. Hal ini bisa terlihat masih banyaknya perpustakaan-perpustakaan yang belum memiliki pustakawan di berbagai wilayah di Indonesia. Namun terkadang profesi pustakawan yang sangat penting ini justru banyak dianggap remeh oleh beberapa pihak tak bertanggungjawab yang menempatkan pejabat-pejabat bermasalah di mutasi ke perpustakaan.

Terlepas dari kontroversi tersebut, profesi pustakawan tetaplah penting dan memiliki peluang yang sangat baik. Pustakawan secara bertahap namun pasti akan terus dibutuhkan oleh perpustakaan-perpustakaan yang saat ini belum memiliki pustakawan.
Jika anda setuju tentang pendapat bahwa setiap sekolah, setiap kabupaten/kota, setiap desa dan RT harus memiliki perpustakaan, Anda tentunya bisa membayangkan di Indonesia ada berapa ratus ribu perpustakaan yang tentunya di setiap perpustakaan membutuhkan pustakawan?

Cepat atau lambat, ketika banyak penentu kebijakan seperti perpustakaan sekolah, lembaga kementrian pendidikan, dan semua pihak tentunya akan tersadarkan jika perpustakaan adalah tempat yang snagat penting.
Saat ini kondisi para pejabat-pejabat dan pihak-pihak yang dimaksud belum pada sadar atau tersadarkan karena kondisi atau idiologi mereka. Mungkin juga karena otak dan kecerdasan serta pemahaman mereka tentang pentingnya perpustakaan masih terbatas sehingga profesi pustakawan masih diabaikan.
Namun yakinlah bahwa setiap negara akan terus berkembang diikuti dengan pola pikir masyarakatnya. Jika nantinya masyarakat semakin kritis dan menuntut tentang pentingnya perpustakaan, maka tidak ada alasan lain untuk pihak-pihak yang memang seharusnya peduli memajukan perpustakaan harus menuruti keinginan masyarakat tersebut.
Namun tentunya kondisi yang demikian perlu bertahap dan dibutuhkan peran banyak pihak untuk mewujudkanya. Dimulai dari Mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, dosen perpustakaan, pustakawan, DPR, dan semua pihak lainya.
Kondisi bahwa pustakawan bisa terlihat sebagai profesi yang dilihat masyarakat sebagai profesi yang sangat terhormat bisa dilihat ketika misalnya setiap kepala sekolah, Kepala Perpustakaan Daerah, dan pihak terkait di seluruh Indonesia memberikan fasilitas perpustakaan dengan fasilitas dan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Apalagi jika setiap desa atau RT di Indonesia sudah memiliki perpustakaan dan internet, tentunya pada saat kondisi ini maka profesi pustakawan akan diburu dan dibutuhkan. Hal ini dikarenakan pada hakekatnya setiap orang pasti ingin cerdas dan maju juga ingin memiliki mutu kwalitas SDM yang semakin baik.

Namun karena sistem birokrasi dan mental pejabat serta penentu kebijakan yang masih “BOBROK” menjadikan profesi pustakawan dianggap profesi rendahan bahkan seolah dianggap profesi “buangan”.
Untuk anda para mahasiswa perpustakaan, pustakawan dan para pejuang literasi yang lain, melalui tulisan ini penulis hanya ingin mengajak dan meyakinkan anda bahwa pada saatnya nanti akan datang sebuah kondisi dimana setiap orang akan berterima kasih kepada pustakawan karena berkat andalah masyarakat bisa menjadi cerdas dan berwawasan luas.

Namun untuk mencapai yang demikian tidak mudah dan butuh perjuangan yang sulit. Yang pasti bekalilah ilmu dan pengetahuan kita sebagai pustakawan untuk terus berjuang mewujudkan mimpi itu. Jangan sampai kita hanya bisa menyalahkan masyarakat tapi kita lupa untuk belajar dan terus beajar untuk terus perbaiki diri sehingga profesi pustakawan selamanya hanya akan terus di caci dan di maki.

Selasa, 05 Maret 2013

baru



YOGYA (KRjogja.com) -Perpustakaan Kota Yogyakarta merancang program pemenuhanalattulisbagiberbagai Taman BacaanMasyarakat di Kota Yogyakarta. Karenaitu, masyarakatdiimbauuntukmenyimpanpensil yang tidakdipakaidandisumbangkankePerpustakaan Kota Yogyakarta.

"Janganbuangpensilbekasanda.Pensilbekasandabisadidonasikanuntukmembantukebutuhanpensilbagi Taman BacaanMasyarakat di Kota Yogyakarta," jelasKepala Kantor ArsipdanPerpustakaan Kota Yogyakarta, Sri Adiyanti di Yogtakarta, Rabu (06/03/2013).

Menurut Sri Adiyantikegiataninidiimplementasikandalambulandonasiseribupensil, dimanapensilkayujenisapapun, termasuk yang sudahsangatpendekdapatdisumbangkankePerpustakaan Kota Yogyakarta, JalanSurotonomor 9 Kotabaru. Perpustakaantelahmeyiapkan counter khususbagipengumpulanpensilsisatersebut.

"Di depanpintumasuksebuahkotakberupa Bank Pensildisediakanuntukpengumpulanpensil-pensilsisa. KemudianpensilsisatersebutakandigantidenganpensilbaruStaedtler 2B, yang akandisalurkan  kepada Taman Bacaanmasyarakatuntukmendukungpembelajarananak-anak di sekolah," imbuhnya.        

Iamenambahkan, kegiatandonasiseribupensilke TBM inidimulaipadaawalbulanMaretsampaidenganakhir April 2013. Sesuairencana, hasildaripadakegiataniniakandiserahkanke TBM padatanggal 2 Mei 2013 bertepatandenganhariPendidikanNasionalsertaBulanBukuJogja 2013. (Den)